Selamat datang di Kawasan Penyair Nusantara Kalimantan Selatan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Sabtu, 18 Desember 2010

Arief Rahman Heriansyah


Dilahirkan di Amuntai HSU pada tanggal 14 Juni 1992 dari pasangan Heriansyah dan Noor Thaibah.Menyukai dunia seni dan sastra sejak duduk di bangku taman kanak-kanak.Dan pertama kali menulis puisi waktukelas 2 SD.
Karya tulisnya pernah dimuat di beberapa media seperti Banjarmasin Post,Radar Banjarmasin ,Serambi Ummah,Media Kalimantan,Cahaya Nabawi,dll.Puisi-puisinya juga pernah dibacakan di Radio RRI Banjarmasin .
Penghargaan seni yang pernah diraihnya antara lain, Juara I Lomba menulis indah se-Kab HSU (PORSENI tk.SD 1999) Juara III Bakesah bahasa Banjar se-Kab HSU (2002) Juara II Karikatur Islami se-Kab HSU (2002),Juara Tunggal penulisan Puisi dan Cerpen (MADING,AlFatra 2005) Juara I Cipta Puisi antar Pesantren tk.Banjarbaru, (Banjarbaru,2010) Juara I Cipta Puisi antar Pesantren se-Kalimantan Selatan,(2010) dan Juara III Cipta Puisi antar Pesantren tk.Nasional (Surabaya,2010)
Beralamatkan Jl.Abd Aziz Gg Mujahiddin RT 02 NO 37 Kec.Amuntai Tengah KAB HSU Kal-Sel. alamat e-mail: arief_brian@yahoo.co.id .Semua tentang dia bisa dilihat di http://stinkyrainbow.blogspot.com,

Jejak Sungai Pada Telapak Tanganmu

langkah arus gelombang keruh
beradu dengan bising mesin kapal-kapal tua
menabuhkan gendang riaknya lautan membisu
mendayu-dayu
dermaga telah aku benami dalam ingatan sebuah wajah
senyum beku namun terpancar ketulusan semu
batin ini tak mau menggores luka lama lagi
tanpa terasa suara mesin kian meraung-raung
mengeluarkan raga dalam khayalan imajinasi

Dik,
kau berpulang membawa hamparan pasir
dibentang cahaya senja merah saga
memukau wajah eksotismu dalam balutan cermin bulan
langkah lusuh yang tak berkesudahan
baiklah,mari ikut aku dalam lembaran kedamaian

Dik,
sebelum kau tekuk
aku sudah tak ada dalam peraduan kapuk
lenguhanmu kemarin malam membuatku rapuh
lalau aku tak sekokoh dulu lagi
tahun berlalu telah membakar jiwa mudaku
tanpa terasa mengukir kerutan di wajahku
aku sekarang bukan seorang berpundak tegak
yang selalu menampung tingkah manjamu

Dik,
lihatlah arus sungai di belakang istana kita
menyisakan tapak kepergianmu dulu
bungkam matanya,menyisakan sebuah déjà vu
namun kutepis prasangka buruk tentang kabarmu
biarlah seribu mulut itu puas mengecoh
tapi tidak dengan lelaki pendampingmu ini
sungai itu bukanlah awal dari yang pahit
selalu kau tegah dalam jejak telapak tanganmu
biarkan saja angin mendesing
merobek seluruh ketegaran jiwa kartini
dalam sukmamu
itu bukan yang kumau,Dik!
alam sudah tahu tentang ketentuan-Nya
bahwa dunia kita tentu tak sama lagi

Penjara Suci,
12/12/2010

Ruang Pedang

adalah sebuah jalan dingin samar-samar
yang menikam angin di ujung pusara
liat bergelombang lepas caranya tekuk
akan tubuh yang renta timba derita
apakah kokoh tonggak samudra
membuka nanar lubang-lubang jendela

adalah sebuah ruang tak ada dasar
berliku tajam seperti elang mematai
menyongsong kemana memori yang tersembunyi
dalam nestapa renungi yang terbuang
bukan tanpa sebab membuang selaksa air mata
secercah bara mengebu-ngebu lahirlah setetes dahaga
para binasa yaitu tak tanya pelita
akankah takut terus bersemayam kantongi kornea mata
mimpi,takkan bisa dikejar imaji
karena mimpi bukanlah mimpi-mimpi
robek saja benteng berkelakar amarah sepi
walaupun hanya satu kali

adalah sebuah arus yang tak terkendali
tak ada cinta pada tapak jejak langit prasasti
antara kau dan aku adalah duri yang tersaji
sepenuhnya belantara adalah duka yang terintimidasi
dongeng kematian,meninabobokan tangis cakrawala
gaduh menikam genderang menyisakan tabu
dengarkan celoteh pekik teriakan gerami candu
tegah prasangka pernyataan demi pernyataan
isak sedu-sedan aku dalam semboyan tangismu
aura diantara cermin tubuh malam terlalu
datar jangka bulan detak ghirah harmoni

lantas kemana ruang diletakkan demi ruang?
sekejab mata seperti hanya tatap binatang jalang
tinta biru menyibak dalam kerisauan
mengungkap derita yang telah lama terpendam
karenanya rinduku adalah pedang
yang menangkis buaian peringatan perang
karena rindu adalah ruang pedang
yang bergeleyut dalam euforiamu

Penjara Suci,
10 Muharram 1432 H

Jumat, 05 November 2010

Kayla Untara


Kayla Untara (Muhammad FR.) ini, nongol di dunia pada tanggal 22 September di Kandangan atau tepatnya di desa Hamalau. Ayahnya (Ch. Abadi atau lebih dikenal dengan panggilan Om Uril…) adalah seorang budayawan asli dari ‘Yogya’-nya Kalsel.
Lelaki yang menyukai warna hitam ini mulai aktif berkesenian sejak duduk di bangku SD. Seabrek prestasi telah diboyongnya. Sejak umur 9 tahun-an (sewaktu ia masih kelas 3 SD), hingga memasuki bangku STM dia beberapa kali meraih juara 1 dalam lomba baca/deklamasi puisi se-banua lima maupun tingkat propinsi, pernah menjadi salah satu perwakilan Kalsel dalam lomba lukis tingkat SMP se-Indonesia di Surabaya. Pernah mengikuti festival theater se-Indonesia Timur di Banjarmasin, terlibat dalam berbagai pergelaran theater baik di Banjarmasin maupun di kota lainnya bersama sanggar posko la-Bastari. Sewaktu masih di STM, pernah mengikuti lomba theater se-banua lima (ketika itu ia sebagai sutradara sekaligus pemain) dalam rangka Rampai Muharram di Kandangan, dan dia membawa sekolahnya sebagai peraih juara satu.
Selain seabrek prestasi di atas, pemuda yang hobi melukis karikatur ini juga aktif menulis sejak awal tahun 2000 hingga sekarang. Sejumlah tulisannya baik berupa puisi, cerpen, dan artikel pernah dimuat di tabloid Gerbang, SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Media Kalimantan dan SKM Serambi Ummah. Sering mengikuti diskusi dan workshop penulisan cerpen baik di Banjarmasin maupun di Kandangan. Mengikuti pertemuan kongres cerpen (se Indonesia Timur?) di Banjarmasin. Puisi dan cerpennya juga telah dibukukan dalam beberapa antologi bersama semisal dalam buku La Ventre de Kandangan, Orkestra Wayang (kumcer), dan Do’a Pelangi Di Tahun Emas (Antologi puisi). Saat ini juga aktif berbagi tulisan baik puisi, cerpen, dan catatan ringan di media jejaring sosialnya (facebook) serta blog pribadinya dengan nama yang sama (e-mail; kayla.untara@rocketmail.com). Prestasinya dalam dunia tulis menulis yang baru-baru ini diterimanya adalah menjadi nominasi terbaik kedua dalam lomba penulisan cerpen bahasa banjar di tahun 2010 dalam rangka aruh sastra Kalimantan Selatan VII di Tanjung dan nominasi terbaik kedua dalam lomba penulisan puisi yang diselenggarakan FLP Banjarmasin beberapa waktu lalu.
“Jangan sampai terlambat mengatakan sesuatu” katanya. Seorang ayah yang sedang menantikan buah hati yang kedua ini sekarang menetap di . Jl. Trikesuma. Kampung Qadi Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah bersama mantan pacar dan putra tercintanya.


Sajak; Sampan dan Riwayat Kematian

Oleh; Kayla Untara (Muhammad FR.)


riak merindu di sela batu-batu
lembut belai semilir angin di punggung sungai
merenda gelombang kecil bagai senyum perawan berbibir biru
ah, kecipak pengayuh membawa sampan ke haluan

ku ingin pulang, sayang
bawa serta segala benih sisa airmata
juga rapun kamboja bahagia
segala rupa pun juga nestapa

ku mesti berlabuh, kasih
larung sampan, entah, mampu melewati ulak itu
mestikah kuretas senja temaram gerbang malam
sedang sampan tak cukup pijar lentera

ah, senggama sampan ini mesra tanpa kata
tiap sisi mengecup airmata
melewati senja berharap cukup pelita

sampan tak peduli mesti bagaimana akan bertambat
jika air ini mejadikan roh menjelma sejarah
terserah, aku pasrah!

katanya;
"yang kupedulikan, mesti ke mana pengayuh ini membawa
sedang senja semakin menjingga..."

sungguh,
gelombang maut itu senantiasa melumuri sampan
menjadikan keringat dingin
menusuk perasaan, meriwayatkan kematian...



Sajak; Berhala Sembilan Centi
Oleh; Kayla Untara (Muhammad FR.)

Igalan asap menggiring irama jiwa
menjadikan bagian inspirasi
menyisakan puntung niscaya
meyabakkan abu-abu berdebu
layaknya api mati
pada berhala sembilan centi

"kapan aku bisa membunuhmu!!!"


bjm'290310

note;
(bahasa lain ; "Tuhan Sepuluh Senti" by. Taufik Ismail)
setelah saya ukur, ternyata "punya" saya hanya sembilan centi..

Minggu, 31 Oktober 2010

Husnul Khatimah



Lahir di Guntung Payung, Banjarbaru Kalsel, 7 Nopember 1978
Menyenangi sastra sejak di SMP, banyak puisinya belum sempat dipublikasikan di media cetak cuma di situs www.zaharani.multiply.com Disampimg membaca puisi juga senang di seni tari dan teater. Bergabung di Kelompok Studi Sastra Banjarbaru yang dipimpin Arsyad Indradi.
Pekerjaan sehari-hari berwiraswasta. Tinggal di Banjarbaru jalan A.Yani KM. 29.400 No. 10 Guntung Payung, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.
Telp : 0813 511 26900 / 0511- 712 6900

Suatu Malam

Tertanda dalam semalam
Satu noktah jingga dalam kegelapan
Bersungut mengisi muram
Malam yang suram
Kuyu, lesu, memelas syahdu
Melolong mengulas pilu
Semua menjadi abu
Malam yang kelabu
Semua kehilangan-nya
Kehilangan semuanya
Api membakar semuanya
Jiwa dan hartanya
Malam suram, malam kelabu
Satu noktah jingga menderu
Menelan segala kelu
Jiwa-jiwa yang terpaku
Yang hilang dan kehilangan
Dalam peristiwa kubaran api
Energi abadi yang diidam-idamkan
Mungkinkah hanya impian

Banjarbaru, Tanah Banyuku
06 Agustus 2008

Senin, 13 September 2010

HAMBERAN SYAHBANA




Lahir di Banjarmasin , 14 – 07 – 1948 Pensiunan PNS / Pensinan Guru SMPN 12 B.masin. Puisi, cerpen dan esseinya terbit di media cetak antara lain : Harian Dinamika Banjarmasin, Radar Banjarmasin dan Banjarmasin Post. Tahun 70an aktif sebagai anggota dan pengurus Sanggar Pelajar Kerikil Tajam Banjarmasin, Sanggar Budaya Kalsel.Tahun 1978 aktif sebagai pengurus Dewan kesenian Kalimantan Selatan dan aktif sebagai Komisaris Bidang Sastra Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kalsel.Tahun1980 aktif sebagai komisaris Bidang Sastra BKKNI Kab.HSS
Karya Puisi dimuat dalam Antologi Puisi Panorama 19 Penyair Banjarmasin, DKD Kalsel 1974 dan Antologi Puisi Bukit Batu Mandi Angin Permai, Sanggar Kerikil Tajam Banjarmasin 1975.
Sekarang berdomisili di Jl.Rawasari Ujung Komp. Dalem Sakti no.14 RT 69 RW 12 Kelurahan Pelambuan Banjarmasin Barat. Banjarmasin 70118 Email : Hamberansyahbana@yahoo.com
Puisinya antara lain :

SEJUJURNYA KUINGIN

Sejujurnya selalu kuingin selamanya bersamamu guruku yang
selalu tegar tak gentar terbakar yang
tak takut ditelan badai digempur guntur menggelegar
tak takut ditelan zaman yang buas ganas beringas
meski terlindas di tengah panas
kau tetap guruku yang
tak pernah bosan memomong
tak pernah henti memberi
tak pernah diam menyiram

Sejujurnya kuingin selalu mengingatmu guruku yang
selalu tersenyum bahagia ketika
muridmu yang nakal ini
mulai dapat menerima untaian mutiaramu
mulai dapat menerima siraman ilmumu
mulai dapat menerima keramahanmu
mulai dapat melaksanakan anjuranmu
mulai dapat menerima semuanya darimu

Sejujurnya kuingin selalu mengingatmu guruku yang
selalu manggut-manggut tersenyum tegas berwibawa
saat mendengar muridmu ini
mulai
berani berkata tidak dalam kumpulan kerbau dungu
berani menentang arus di arung gunung
berani bersuara lantang di tengah ansambel yang palas
berani menari di sendratari yang keras

Sejujurnya kuingin selamanya pertemuan ini
takkan ada akhirnya dan kuingin selalu perpisahan ini
tak akan pernah terjadi
semoga baktimu berganjar berganda-ganda
Amin.

Banjarmasin, 2008


AKU MASIH PUNYA HARGA DIRI
Buat yang tak lagi loyal

Aku masih punya harga diri meski digoncang
gempa puting beliung dan banjir bandang
garang menerjang
tidak seperti kamu tak punya malu
pura-pura gagu bagai lembu
pura-pura tak pernah ragu seteguh batu
berani mengharu biru nyatanya hanya benalu
menumpang makan di ranting di cabang di batang
bahkan diam-diam memotong dari belakang

Aku masih setia
tidak seperti kamu yang duduk satu meja
makan dan minum darah saudara seinang
yang tak pernah kenyang
pura-pura sejiwa sehati
padahal hanya pelabuhan pura-pura menanti
kapal yang tak pernah mau berlabuh di sini

Aku masih punya harga diri tidak seperti kamu
masih punya nyali tapi tak punya malu

Banjarmasin, 2008


AKU RINDU AKU INGIN

Aku rindu subur tanahku subur sawahku subur ladangku
aku rindu rindang pohonku rindang hutanku pesona gunungku
pesona sungaiku gelora debur lautku
aku ingin kau tak pernah porak-poranda tak pernah jungkir balik
tak pernah terbakar tak pernah bernanah
aku ingin anak cucuku tak pernah silau sinar kemilau emas intan
dan mutiaramu

Banjarmasin 2008


KOPI PAGI
Buat Zh

Kopi pagi buatanmu hangat menyengat membuatku
malu meminumnya mengingat kamu
pernah mendarat di landasan jantungku
menusuk hatiku membuatku malu
bergulingan di permadanimu

Kopi pagimu hangat di naluriku
tapi aku sungguh malu malu
meminumnya mengingat bawa aku
pernah menari di semakmu
pernah berenang di telagamu
pernah berburu di hutanmu
pernah berlabuh di hatimu
akh
aku malu berbaring di hangat kopimu

Banjarmasin, 2008


KUJELANG KAU

Kujelang kau
di dasar laut di kilau mutiaramu
di permukaan deru ombak rambutmu
di senandung rindu di hilir sungaiku

kujelang kau
di lereng gunung
di terjal tebing
di langit biru di arakan mega

Banjarmasin 2008


MATAHARIKU MENCARIMU

Hai rembulan
tahukah kau matahariku resah mencarimu tertatih-tatih?
menyisir senja ke senja menerjang samudera ke
samudera membantai badai dari pantai ke
pantai

Hai rembulan
tahukah kau bahwa matahariku resah memaksaku ikut
mencarimu ke mana-mana
sambil menimang bayang
di awang-awang sambil melayang terbang bagai elang
meninggalkan sarang

Banjarmasin, 2008

Kamis, 26 Juni 2008

A.Kusairi ( Kabupaten Tapin – Rantau )

Lahir di Rantau pada tanggal 11 Januari 1959. Puisi – puisinya dipublikasikan di media cetak antara lain : Acara Untaian Mutiara RRI Banjarmasin, Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Dinamika Berita dan Radar Banjarmasin. Di samping menulis puisi, juga esai dimuat di majaolah Topik dan Panji Masyarakat Jakarta. Antologi puisi bersama antara lain : Antologi Penyair Delapan Kota, Banjarmasin ( 1982 ). Festival puisi se Kalimantan ( 1992 ), Wasi, kumpulan puisi Penyair Taman Budaya se Indonesia, Tamu Malam ( 1992 ), Jejak Sunyi Tsunami ( B.Bahasa Medan 2995), Ronce Bunga – Bunga Mekar ( 2007 ).Pernah Juara I lomba menulis puisi “ Pekan Apresiasi Sastra “ yang diadakan Sanggar Marta Intan Banjarbaru ( 1981 ), juara III lomba penulisan puisi Peringatan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-455 ( 1981 ). Sepuluh besar Penulisan Puisi Bahasa Banjar se Kalimantan Selatan ( 1983 ), juara II Lomba menulis puisi Pekan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banjarmasin ( 1983 ). Juara I Lomba menulis puisi memperingati wafatnya Chairil Anwar se Kaliman Selatan ( 1984 ). Sehari – hari sebagai Penilik Kebudayaan Disdik Kabupaten Tapin . Bertempat tinggal di Jl.Bupati H.Said Alwi Desa Perintis Raya RT III RW II No.69 Rantau 71152. Telp.0511732416 Phone : 081348588149.
Puisinya :

PENGANTAR

ketika akan kutulis sebuah puisi
sejak senja ke larut malam tiba
perlahan sekali kita kuakkan setiap jendela waktu
untuk menyingkap tirai – tirai memutih
kemudian memandang jauh ke luar sana
menyaksikan pergantian musim
yang makin menua
dan berguguran
di antara jejak – jejak yang lelah
dari kejauhan
kita saling menatap bayang – bayang samar
yang senantiasa memperlambat langkah
sementara rindu pun beralun
bagai kepingan – kepingan mimpi
yang selalu kupunguti
dari rahim waktu
untuk merangkai sebuah cerita ringan
pelarut waktu yang senja
sebelum anak – anak beranjak tidur
baringkanlah sejenak lelah di sini
di kamar pertemuan yang berbunga ilusi
di mana harkat kemanusiaanku membenihkan puisi
yang bmenghentak – hentak gejolak sanubari
ah
tiba – tiba aku di sini
dalam kesendirian abadi

banjarmasin, desember 1981
(buat teman dekatku : J.Rasyidah )

ARJUNA MENCARI KEKASIHNYA SUMBADRA

Konon, Arjuna menetas pada rahim
wanita mandul, dan lahirlah ia
di tengah kebisikan alam
Arjuna terheran – heran
menyaksikan alam yang semakin sibuk
dengan wajah – wajah asing
Dari berjuta wajah manusia
yang tidak lagi memakai wajahnya sendiri
mereka seperti topeng – topeng
Kaku dan tak bersahabat
Arjuna semakin bingung, tak pernah
ia pahami
Kenapa ia mesti lahir kembali
di antara jutaan manusia
yang tak pernah ia kenal
Dia merasa sendiri dan terasing
dia pun tak mengenal wajah bundanya
sebab ia tak tahu siapa yang melahirkannya
Arjuna termenung
ingat akan kekasihnya, Sumbadra
Kerinduan pun menusuk jantungnya
Arjuna mencari Sumbadra, kekasihnya
ia kembara ke alam lain
pada setiap jiwa lelaki perkasa
yang rindu pada kekasihnya
“Sumbadra, kau semakin jauh,” gumamnya
ia tak tahu di mana sang kekasih berada
Tapi ia yakin, Sumbadra tak lagi
di kayangan. Ia berada di surga
“Ah, kita semakin semakin jauh ...,” gumamnya lirih
Begitu lirihnya, para dewa pun tak sempat mendengar
Dengan kesal ia tarik busur panahnya
“Kuhancurkan segala kedukaan,” pekiknya
tapi ia tak mampu melakukannya
Arjuna telah kehilangan anak panahnya
Sejak hari pertama

Februari,1990

Rabu, 28 Mei 2008

Abdul Karim Amar


Abdul Hamid adalah nama sebenarnya tetapi dalam tulis menulis dikenal Abdul Karim Amar, lahir di Kertak Hanyar, 10 November 1950. Di peta kesastraan Kalsel termasuk angkatan 70-an. Pada tahun 1977 -1980 bertugas sebagai tenaga Honorer di Studi Pemda Kotabaru. Sejak tahun 1983 sampai sekarang sebagai staf Puskesmas Kecamatan Kertak Hanyar. Aktif sebagai penasehat Persatuan Sahabat Pena Indonesia (PSPI) “Renasa”. Pendiri dan wakil ketua Sanggar Seni “ Ismanye” Kertak Hanyar priode 1974 – 1977. Tahun 1974 pernah juara III lomba mengarang prosa se Kalsel dan Juara I menulis puisi se Kabupaten Kotabaru tahun 1978. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media massa, antara lain : SKH Banjarmasin Post, SKH Upaya, SKH Bandarmasih, Buletin NU Kodya Banjarmasin dan antologi puisi penyair Kalimantan Selatan “Tamu Malam” , 1992 .

Kuserahkan Diriku Ini Kepada-Mu, Tuhanku

Tuhanku, dalam hening di malam sepi
kuceritakan akan kesenyapan hidupku ini
dalam pengembaraan di alam tak berujut
aku sering bermimpi menuju tiada arah
mencari selaput kasih di bumi beku
Tuhanku,
adakah lagi datang buatku cinta yang perkasa
di malam seribu bulan
atau terbang tak kembali
Tuhanku,
berkat kasih-Mu kembali aku mengerti
bahwa hakikat dunia ini hanya sementara waktu
hidup, cinta, dan kemudian mati
lalu masih pantaskah gerimis mataku sepanjang hari
serta merenungi langit ungu
Tuhanku,
betapa pun hampir putus asa dan diburu kematian
tiba-tiba aku sadar
bahwa Engkau dengan kasih melunakkan
jeraji-jeraji dukana diselaput nyawaku yang usang
akhirnya aku tersungkur gemetar
sedang di cakrawala bintang telah pergi
melewatkan malam kian menyepi
dan aku tanpa waham syak ragu lagi


Kertak Hanyar, 5 Mei 2008)


Nyanyi Sunyi

wahai sukmaku yang sunyi
sendiri di antara ramai
deras deru tangismu menanti
biduk tak kunjung sampai
ah,
gairah cintaku yang sezarrah ini
belum jua tertambatkan
Tuhan
kicau murai apakah yang masih berlagu
kalau sukma ini sudah terkulai layu
atau engkau telah berlalu
deru datangkan dingin
aku sedang terbaring bisu
tiada kuasa untuk menjalin

(Kertak Hanyar, 5 Mei 2008)

Senin, 28 April 2008

M.S.Sailillah


Lahir di Pelaihari,19 Juni 1953. Menyelesaikan S 1 Jurusan Jurnalistik dan S 2 Universitas Doktor Sutomo Surabaya. Dalam kiprahnya di dunia kesenian pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Kalsel bidang teater (1998).

Beberapa antologi bersana antara lain : antologi puisi BUNGA API. 19 AGUSTUS 94, JENDELA TANAH AIR 1995, PETA PENYAIR KALSEL, TITIAN, PUISI RELIGI BULAN RAMADHAN, UNTAIAN MUTIARA 88 dll.

Selain itu juga beberapa kali menghadiri undangan Temu Sastra antara lain di Solo dan Temu Sastra Kepulauan II di Makassar.

Dalam kesehariannya membina anak anak murid TK Al Qur’an dengan durasi waktu sekali seminggu yaitu latihan teater, pidato dan baca puisi . Usahanya ini nampaknya tidak sia sia terbukti anak anak asuhannya berhasil menjadi yang terbaik di tingkat Nasional yaitu di Surabaya tahun 2000 di Jakarta 2003 dan di Yogyakarta tahun 2005 pada bidang drama anak anak, puitisasi Al Quran, ikrar santri dan pidato pada Festival Anak Saleh.

Dalam komunitas terater Sailillah juga beberapa kali mengikuti temu teater tingkat Nasional dan Regional baik sebagai pemain, awak pentas maupun sutradara

Beberapa buah puisinya ciptaanya juga telah dijadikan lirik lagu oleh pencipta lagu Kalimantan Selatan diantaranya Sisigan Sungai, Doa untuk bunda , Maayun anak, Sound Track Sinetron Dokter Hayati dll

Penyiar dan host pada Radio Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan

dan Kepala Sub Dinas Pemasaran Seni dan Budaya pada Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Banjarmasin.

Didalam beberapa organisai kesenian antara lain sebagai Koordinator Bidang Teater dan Film Dewan Kesenian Kalsel, Pengurus PARFI Cabang Kalimantan Selatan, Sekretaris Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kal Sel dan sebagai Ketua Kelompok Study Seni Sanggar Budaya Kal Sel.


Puisinya antara lain :

476 Banjarmasin Dalam Tatapan Penyair
kepada bapak h. sofyan arpan

puisi ini ah. apakah hanya desau dedaunan ditiup angin yang mengerti
puisi ini mata pisauku yang meruncing kota ini dengan mawar
sebab aku ingin melancipkannya seiring air hujan musim kemarau`
yang mengendapkan tetesan embun
itulah sebabnya mawar yang tumbuh di taman berwarna merah muda
dan selalu bermekaran
kupikir kita tinggal di bawah satu atap hanya anjung yang berbeda
aku mengenalmu, kuduga kau tidak
tapi ternyata kau mengenalku lebih dari yang ku duga
pagi itu kau tak menegur, melirikpun tidak
aku jadi sedih. Tapi akhirnya aku sadar kau punya seribu hati, seribu mata
ketika lonceng berdentang tiga kali
persis ketika kau menjenguk garba pasar yang kusut kemelut, lidah api menjulur
menganga di mulut naga
kau suruh aku menyimak geraknya yang membelit dan berenang di sungai martapura
sinar matanya menyilaukan sang pengembara
ketika aku menatap suatu pagi kota ini, kota tua kata anakku
tapi tak empat aku berfikir kota ini terbang bagai rajawali
memekik dan mengelilingi cakrawala
(dengan berseloroh anakku bilang : “papa tahu, rajawali itu yang berubah menjadi
pesawat boing yang meluluh lantakkan wtc dan pentagon 11 september di new york city”
“hus jangan lancang, kau akan ditangkap satpol pp“, ancamku
dia diam, bahkan sampai hari ini dia tidak mau lagi bicara)
aku sempat berfikir, ah masa tapi dengan tersenyum bijak kau berkata “
“ tentu saja bisa, sebab kota ini dibangun dengan nawaitu dan tawaqal alallah
ada pula nuansa yang berbuah visi, dan missipun erbungas
jadilah dia seribu sungai, seribu daya pikat, seribu rembulan dan seribu matahari
yang menyiram kota ini
(aku tersenyum, tapi senyum bangga sailillah sang penyair, sungguh)
dan, kau tahu walikotaku senyum itu berkata ” bapak haji sofyan arpan, selamat”
di tanganmu kota ini tak pernah henti mengalir
tak pernah henti menjulangkan sinar
karena kaulah mercu cahaya itu

September 2002


BURUNG KEMERDEKAAN

Dua ekor burung kertas
sepasang warna merah dan putih
dari persegi empat dilipat susah payah oleh seorang bocah
ketika ditolakkannya ke udara terbang rendah memburu mimpi
sia sia kepak sayapnya kalau
akhirnya membentur matahari
patah sayap dan kakinya
Sepasang burung kertas merah dan putih
dilipat dalam mimpi seorang bocah
ketika hinggap di pucuk cemara
tiba tiba air matanya beruraian
meratapi warna yang hilang entah ke mana
tidak juga berkibaran di pucuk tiang bendera
sementara wajah si bocah pucat pasi
sebab ia merasa bersalah telah menyimpan zat pewarna
di saku celananya
Lalu cepat cepat dilipatnya kertas yang berwarna merah
membentuk dua kemungkinan, entah burung atau kapal api
lalu dilarutkan ke sungai darah mencari jiwa yang tertinggal
dilipatya pula kertas yang berwarna putih
membentuk istana putih di suatu negeri bawah sadasr
Sesaat sepi lalu merenung
akankah merah berwarna merah lagi dan putih berwarna putih pula
bila semua enggan berbagi diri
Tiba tiba kebekuan menyeretnya ke ruang waktu yang begitu asing
karena gelap ia terjerembab, lututnya berdarah terbentur batu cadas
darah menggenang dan seketika menjelma menjadi telaga
yang menenggelamkan seisinya
Orang orang tidak bisa bersuara hanya dia seorang, bocah tadi
“inilah firdausi yang terlahir ke dunia” katanya
orang orang kembai membisu, tapi semua mafhum
kalau itu fantasi duniawi
sebab memetik kata dari daun sama dengan dzikir khusu kepadaNya

Banjarmasin, 1995


SURAT BUAT KEKASIH

kekasih, hatiku adalah gurun dalam pasirmu
debu dalam badaimu angin dalam topanmu
seberkas sinar dalam gulitamu
saat bulan tersipu, masikah ada sinar yang membekas
di hatimu
kekasih, hatiku adalah pualam
dan aku ingin merautnya dalam senyummu
lalu kita labuhkan di laut lepas yang ganas
seperti sepasang merpati putih yang terbang membelah
cakrawala tiap ketika melagukan tembang kasmaran
berlayar mencari pantai akanan
kekasih, aku tulis surat ini dalam ruang dan waktu semu
angin dingin mendirus dalam ah……hatiku
mengawang mengukir cintamu
adakah ini negeri kita yang dialiri sungai perak ke muara
kekasih, hatiku menggelombang dalam lautmu
namun dahagaku tak kan pupus sebelum perjalanan ini
menyentuh pintumu


NYALA DAN KITA

Rumah bathin kita rumah kita adalah sepi kita
Sarang di mana keluh dan peluh berlabuh
Seperti nasib antara jatuh dan sikukuh
Ke mana sang bathin pulang bila ruang
Adalah sarang ketidak percayaan dan bimbang
Hari ini mentari senyum sumringah
Tujuh lima belas kita berangkat dengan nyala di dada
Membakar bumi , membakar nasib
Semestinya ada yang harus direnung
Sebab kita adalah suara
Tapi mampukah kita mengusik kesadaran dari tidur panjang
Nyala adalah kita
Membakar bumi berjalan menembus bumi kjita
Dalam kamar dan udara terbuka
Kita katakan bangun dan rentangkan tangan lebar lebar
Menyambut cahaya di ufuk timur
Sementara nyala dan kita
Membathin tak kunjung padan

Banjarmasin Deppen Kodya 94


KOTAKU, CINTAKU

Dengan apakah mesti kukatakan
Menatap wajahmu dalam pedih
Meniti nadimu membelah telaga mimpi
O, kotaku cintaku yang merambah bunga
Dengan tubuh lunglai disibak rinai hujan
Kau beringsut meniti kemarau panjang
Dalam lengkung tarikan busur kehidupan
Anak panahpun lepas dalam ketidak mengertian
Tanpa ekspresi kami coba menatap senyum itu
Tanpa cinta membuahkan sesuatu yang musykil
O, kotaku tercinta yang tergilas beban kerakusan anak adam
harapan kian menua
Dengan apakah harus kukatakan
Melihat lenggangmu yang masih saja mengundang decak cinta
kotaku,, cintaku, perawan tua ku yang manis
Cinta yang miskin kemesraankah yang membetot betot imajinasiku
Di kamar pondokku, diliang lahatku
Betapa cantik wajahmu
Ketika tersenyum di kaca jendela pada suatu pagi
Walau dalam tatap tualang kau gadis yang lugu
Kotaku, kubilang kau gemuruh laut didadaku
Kau bunga liar di padang perburuan yang menebarkan beribu romaa
Aku merasa aneh pagi ini tiba tiba saja aku jadi teringat padamu
Tiba tiba aku sangat ingin menatap wajahmu dalam dalam lalu mengecup keningmu
O, kiranya kau dalam usia senja

Pelaihari, Desember 79